Undercover Abah Luthfi : Tidak ada Alasan Anak Muda Berhenti Bermimpi Kuliah ke...

Abah Luthfi : Tidak ada Alasan Anak Muda Berhenti Bermimpi Kuliah ke Luar Negeri

78
BERBAGI
Soft launching CAFS Future Language Forum 2023 bertajuk “Elevating Education Capacity through Innovation, Language and Acceleration Programs”, di Ballroom lantai 2 Pondok Pesantren Putri Al-Inaaroh Batang, Sabtu, 23 September 2023 pekan lalu.
Advertisement

Berita Merdeka – Yayasan Abah Luthfi Batang meresmikan Center of Al-Inaaroh Future Studies (CAFS), sebuah lembaga inkubasi latecomer yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Pada soft launching CAFS Future Language Forum 2023 bertajuk “Elevating Education Capacity through Innovation, Language and Acceleration Programs”, di Ballroom lantai 2 Pondok Pesantren Putri Al-Inaaroh Batang, Sabtu, 23 September 2023 pekan lalu.

Selain menjadi lembaga inkubasi pendidikan, CAFS juga menjadi wadah untuk menampung keinginan ambisius seseorang yang hendak melebarkan sayapnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Gebrakan CAFS adalah mendobrak mindset kerdil yang terkadang menghambat seseorang untuk berkembang, ditamab jika ia berada di lingkungan yang kurang mendukung, statis, dan membelenggu. Sebagai bentuk upaya bersama.

Advertisement

Bangun Sinergitas dengan Stakeholder dan Ormas, CAFS Al-Inaaroh Gelar Forum Diskusi Penguatan Bahasa

“Harapannya CAFS mampu memobilisasi anak muda, berani turun ke masyarakat dengan mengupakayakan kepedualiannya kepada masyarakat akan pendidikan,” jelas Abah Luthfi dalam pidatonya di acara tersebut.

Menurutnya, sampai saat ini Indonesia masih mengalami kesenjangan signifikan dalam Pendidikan. “Tidak ada alasan lagi bahwa anak tidak kuliah, tidak melanjutkan studinya, karena miskin. Banyak beasiswa tersedia untuk orang-orang yang mau dan berani berusaha.”

Dibawah tangan para ekspertis yang menghandle lembaga ini, Abah Luthfi berpesan bahwa keberadaan CAFS diharapkan tidak hanya soal fenomena; sebuah ide dasar tanpa ada aksi apa pun. Sehingga kemanfaatan lembaga ini dapat dirasakan oleh kalangan yang benar-benar membutuhkan.

Direktur CAFS, M. Afifudin mengatakan dalam sambutannya “Sebenaranya Beasiswa bukan ditunjukkan untuk orang-orang miskin atau orang-orang yang berprestasi saja, melainkan dimaksudkan kepada siapa pun yang memang memenuhi syarat.

Peluangnya, saat ini akses dan informasi mengenai beasiswa lebih melimpah, sehingga kendala utamanya ada pada diri sendiri, yakni meningkatkan kapasitas kebahasaan, menjadi pribadi yang disiplin, dan berani belajar sendiri”.

Soft-launching yang digelar saat ini bertajuk “Elevating Education Capacity Through Innovation, Language, and Acceleration Programs” guna menciptakan ekosistem komunitas anak muda kreatif dan semangat dengan tujuan mendapatkan beasiswa yang berorientasi global dan masa depan.

Ia menyampaikan juga mengenai pentingbya ekosistem yang perlu dibangun sejak saat ini, karena salah satu faktor tumbuhnya semangat belajar seringkali diawali dari lingkungan tempat ia tinggal.

Oleh karenanya, menciptakan lingkungan yang tepat amat sangat mempengaruhi pemikiran dan kepribadian, karena sesungguhnya orang yang kecil bukan persoalan fisik, melainkan mental dan ekosistem yang ‘merasa kecil’.

Maka, sejak awal yang perlu dibangun dan dibentuk adalah mentalnya dulu, karena mental itu diibaratkan sebuah wadah yang diluaskan, jadi jangan hanya hidangan-pengetahuan apa pun dapat tertampung dengan baik jika tempatnya luas.***